Ada banyak versi yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Suku Batak itu sendiri. Salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah kurangnya informasi sejarah yang dapat diteliti dikarenakan banyak dari benda – benda sejarah suku Batak hilang pada saat penjajahan Belanda dan Perang melawan Padri (atau lebih dikenal dengan tingki ni par padiri). Dalam artikel ini penulis mencoba mengambil jalur historis dimana disebutkan bahwa asal usul Bangsa Batak adalah dari daerah Asia.
Ruma dan Gorga Batak
Gorga Batak adalah ukiran atau pahatan tradisional yang biasanya terdapat di dinding Ruma bagian luar. Gorga adalah dekorasi atau hiasan berupa ukiran yang terbuat dari kayu. Ukiran ini kemudian dicat dengan tiga warna; Merah, Putih, dan hitam.
Bahan untuk gorga ini biasanya adalah kayu lunak yang mudah dikorek atau dipahat. Biasanya nenek moyang orang batak memilik kayu ungil atau ada juga orang yang menyebutnya kayu ingul. Kayu ini dipilih karena tahan terhadap sinar matahari langsung. Dan tak mudah lapuk oleh air hujan. Kayu ini juga biasa dipakai sebagai bahan membuat kapal atau perahu.
Sigale – Gale, Patung Pelipur Lara
Dahulu kala, hiduplah seorang Raja di daerah Uluan bernama Raja Rahat. Raja ini telah lama ditinggal mati istrinya. Ia hanya memiliki seorang putra, Mahkota kerajaan bernama Manggale. Raja sangat bijaksana dalam memimpin negerinya yang tentram dan makmur. Sedangkan Manggale selaku putra mahkota dihormati dan disegani karena ketangkasannya dalam berperang, menjunjung tinggi kebenaran dan mencintai rakyatnya.
Suatu hari terdengar kabar bahwa di hutan perbatasan Uluan telah berkumpul pasukan dari seberang negeri Uluan hendak menyerang dan menjarah harta kekayaan Uluan. Rakyat tampak gelisah demikian pula sang Raja. Beliau berusaha keras memikirkan rencana menghadapi ancaman ini. Sang Raja lalu mengumpulkan penasehat – penasehatnya. Para tetua kampung, Datu – datu, dan tentu saja Putranya Manggale selaku panglima perang.
Tuanku Rao. Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak
Selama ini banyak dari kita orang batak hanya mengetahui kisah mengenai Sisingamangaraja X dari satu sisi saja, yaitu mitos tentang tewasnya Sisingamangaraja X setelah kepalannya dipenggal oleh Tuanku Rao dan kepala Sisingamangaraja terbang ke langit. Namun bagaimanakah kisah pertarungan antara Sisingamangaraja X dengan Tuanko Rao yang sesungguhnya? Artikel kali ini dikutip oleh Batara R. Hutagalung dari Buku Tuanko Rao karangan Mangaradja Onggang Parlindungan
Sejarah Tuak
Pohon Enau dalam bahasa Indonesia disebut pohon aren, dan sugar palm atau gomuti palm dalam bahasa Inggris. Di Sumatera, tumbuhan ini dikenal dengan berbagai sebutan, di antaranya ‘nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk, dan bagot’. Tumbuhan ini dapat tumbuh dengan baik dan mampu mendatangkan hasil yang melimpah pada daerah-daerah yang tanahnya subur, terutama pada daerah berketinggian antara 500-800 meter di atas permukaan laut, misalnya di Tanah Karo Sumatera Utara.
Anak Sasada, Film Berbahasa Batak Pertama di Indonesia
Liputan6.com, Medan: Film berjudul Anak Sasada merupakan film pertama yang menggunakan bahasa Batak Toba, dalam format layar lebar yang mengisahkan tentang kemiskinan dan pendidikan orang di desa yang harus merantau ke kota.
“Para pemain film itu tidak seluruhnya berasal dari etnik Batak Toba. Tetapi ada juga suku Melayu, Jawa dan Simalungun,” kata Thompson HS, penulis skenario film ini, Selasa (24/5).
Produser dan sutradara film tersebut adalah Pontianus Gea, pria seorang suku Nias yang pernah studi film di Italia selama dua tahun. Menjadi kejutan yang menarik, ketika seorang di luar suku Batak tertarik membuat film berbahasa Batak Toba, sekaligus membiayainya.
Continue reading
Kisah Simamora (Bagian Kedua)
Bulan Menjadi Dua
Di perbatasan Silindung dengan Pahae, tinggallah seorang pemilik kebun yang kaya raya. Dia dipanggil Nalobian. Menurut pengakuannya, dialah yang paling kaya di daerah tersebut. Selain kaya, Nalobian juga mengklaim dirinya paling pintar, paling tampan, paling segalanya. Paling ditakuti dan paling berpengaruh di Desa Pahae.
Na lobian, dalam bahasa setempat berarti “yang berlebih” adalah gelar yang sangat dibanggakannya. Banyak penduduk desa dan pemuda rantau yang bekerja di kebunnya.Adayang menggarap tanahnya dengan system bagi hasil, banyak pula yang bekerja sebagai buruh upahan. Orang –orang desa sebenarnya tidak senang melihatnya. Tapi tidak ada yang berani menentangnya.
Kisah Simamora (Bagian 1)
Kisah Simamora adalah kisah yang sangat menarik dan mendidik. Banyak cerita dari Simamora yang diketahui oleh masyarakat. Mungkin sebagian dari pembaca pernah mendengar istilah “Simamora Na oto” atau Simamora yang bodoh. Artikel ini tidak bermaksud menghina atau melecehkan marga tersebut, Sayangnya banyak versi yang beredar di masyarakat yang terkadang malah berbau negatif.
Artikel kali ini mencoba mengupas salah satu cerita mengenai Simamora yang menjadi asal usul istilah “Simamora Na oto” yang sering dilekatkan pada marga tersebut. Bagaimana sebenarnya hal ini bisa terjadi? Berikut ini, Kisah Simamora Bagian Pertama.
Raja Boental, Pewaris Mahkota Kerajaan Sisingamangaraja
Ketika Raja Boental menginjak usia remaja, harapan – harapan dan ambisi untuk mengembalikan kembali Kerajaan Sisingamangaraja banyak bermunculan di kalangan Parmalim dan Parbaringin karena dipercayai bahwa semangat dan jiwa perjuangan Sisingamangaraja teta hidup dan berkembang di kalangan orang – orang Heiden dan semakin berkembang menjelang rencana pemulangan Raja Boental. Bagaimanakah kehidupan Raja Boental di masa penjajahan dan apa saja yang telah dilaluinya selama dalam masa pembuangan? Apa Yang terjadi sehingga Raja Boental tidak dapat meneruskan perjuangan Ayahnya memimpin kerajaan Batak? Artikel ini membahas lebih lanjut mengenai pribadi Raja Boental.
Asal Usul Marga di Daerah Nias
Konon, Lowalangi (Mula Jadi Na Bolon bagi orang Batak)menciptakan langit berlapis Sembilan. Lalu menciptakan pohon kehidupan bernama Tora’a. pohon kehidupan itu berbuah dua buah yang kemudian dierami oleh seekor laba-laba. Lalu lahirlah sepasang dewa dari buah tersebut bernama Tuhamora’anggi Tuhamoraana’a (berjenis kelamin laki-laki) dan Burutiraoangi Burutiraoana’a (berjenis kelamin perempuan). Kedua Dewa ini kemudian menjadi penghuni langit berlapis Sembilan tersebut.

