Asal Mula Tongkat Tunggal Panaluan

Dahulu kala ada sebuah cerita yang berasal dari Pangururan, pulau Samosir tepatnya di desa Sidogor-dogor tinggallah seorang laki-laki bernama Guru Hatimbulan. Beliau adalah seorang dukun yang bergelar ‘Datu Arak ni Pane’. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan.

Telah sekian lama mereka menikah tetapi belum juga di karuniai keturunan. Suatu ketika perempuan itu hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu, kehamilan tsb membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib(aneh), bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi masa kemarau dan paceklik, cuaca sangat panas dan kering, saking teriknya tak tertahankan, permukaan tanah dan rawa-rawa pun menjadi kerak dan keras.

Continue reading

Advertisements

Sahang Maima dan Datu Dalu

SAHANG MAIMA DAN DATU DALU

Sahang Maima dan Datu Dalu adalah keturunan ke-9 dari Si Raja Batak. Mereka berdua bersaudara. Mereka memiliki sebuah tombak warisan leluhur mereka yang dijaga oleh Sahang Maima. Suatu hari Datu Dalu meminjam tombak tersebut untuk membunuh seekor babi hutan yang sering merusak kebun miliknya. Sahang maima lalu meminjamkannya dengan catatan jangan sampai rusak.

Continue reading

Silsilah Si Raja Batak

Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.
Continue reading

Para Penginjil di Tanah Batak

UTUSAN DARI INGGRIS

Pada tahun 1820 tiga utusan Pekabaran Injil dari Baptis Inggris yaitu Nathan Ward, Evans dan Richard Burton dikirim ke Bengkulu untuk menjumpai Raffles, seorang VOC yang menjabat Gubernur di daerah Sumatera saat itu. Lalu Raffles menyarankan mereka untuk pergi ke arah utara, ke tempat tinggal suku Batak yang masih kafir. Burton dan Ward menuruti petunjuk Raffles.

 

Mereka pergi ke Utara. Awalnya mereka bekerja di pesisir. Kemudian pada tahun 1824 masuk ke daerah yang lebih dalam lagi, yaitu Silindung, wilayah suku Batak Toba.

 

Saat mereka tiba di Silindung mereka diterima dengan baik oleh Raja Setempat. Namun perjalanan penginjilan mereka terhenti ketika terjadi salah paham dengan penduduk. Penduduk salah menafsirkan kotbah penginjil tersebut yang mengatakan kerajaan mereka arus menjadi lebih kecil, seperti anak kecil. Penduduk tidak suka dengan hal ini maka mereka diusir pada tahun itu juga.

 

AMERICAN BOARD OF COMMISIONERS FOR FOREIGN MISSION

Logo The American Board of Commisioners for Foreign Mission

Tahun 1834 dua orang Amerika, yaitu Munson dan Lyman yang merupakan utusan gereja Kongregationalis Amerika yang diutus oleh The American Board of Commisioners for Foreign Mission (ABCFM) di Boston masuk ke Sumatera.

 

Dalam perjalanan ke daerah Silindung, di pinggir lembah Silindung, malam hari 28 Juni 1834 mereka dihadang. Ditangkap dan dibunuh di dekat Lobu Pining. Pembunuh penginjil tersebut adalah Raja Panggalamei (Raja di daerah Pintubosi yang tinggal di daerah Singkak) bersama rakyatnya.

 

RHEINISCHE MISSIONS GESELSCHAF

Hermann Neubronner van der Tuuk

Tahun 1840 seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, F. Junghuhn melakukan perjalanan ke daerah Batak dan kemudian menerbitkan karangan tentang Suku Batak. Karangan tersebut sampai ke tangan tokoh-tokoh Lembaga Alkitab di Belanda. Hingga mereka mengirimkan seorang ahli bahasa bernama H. Neubronner van der Tuuk. Ia adalah orang Barat pertama yang melakukan penelitian ilmiah tentang Bahasa Batak, Lampung, Kawi, dan Bali. Dia juga orang Barat pertama yang menetap di pinggiran Danau Toba dan bertemu dengan Si Singamangaraja. Ia sangat senang berkomunikasi dan menyambut orang Batak di rumahnya. Van der Tuuk kemudian menyarankan supaya lembaga Zending mengutus para penginjil ke Tapanuli, langsung ke daerah pendalaman. Untuk menunjang usulannya tersebut, ia menyusun sebuah kamus, mengumpulkan cerita, peribahasa dan menerjemahkan sebagian Perjanjian Baru dalam Alkitab ke dalam Bahasa Batak.

 

Tahun 1857 penginjil asal Belanda, G. van Asselt melakukan pelayanan di Tapanuli. Ia menebus beberapa pemuda dan memberi mereka pengajaran injil. Tanggal 31 Maret 1861 dua orang Batak pertama dibabtis. Yaitu : Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar. Dan pada 7 oktober 1961 diadakan rapat empat pendeta ( Pdt. Heine, Pdt. Klemmer, Pdt. Betz, dan Pdt. Asselt) di Sipirok untuk menyerahkan misi penginjilan kepada Rheinische Missions Geselchaf. Hari ini kemudian dianggap sebagai hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan. Atau disingkat HKBP. Sering kali orang Batak menghubung-hubungkan nama HKBP sebagai inisial dari keempat pendeta tersebut diatas.

Awal dan Perkembangan Agama Kristen di Tanah Batak

Kuburan BatakSebelum masuknya pengaruh agama ke Tanah Batak, orang Batak pada mulanya belum mengenal nama dan istilah “Dewa-dewa”. Orang Batak saat itu percaya kepada roh-roh leluhur dan benda-benda mati. Sebelum ada pengaruh agama, orang Batak adalah penyembah berhala. Kehidupan agamanya bercampur antara penganut animisme, dinamisme, dan magi.

Continue reading