Asal Usul Suku Batak


Suku Batak

Ada banyak versi yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Suku Batak itu sendiri. Salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah kurangnya informasi sejarah yang dapat diteliti dikarenakan banyak dari benda – benda sejarah suku Batak hilang pada saat penjajahan Belanda dan Perang melawan Padri (atau lebih dikenal dengan tingki ni par padiri). Dalam artikel ini penulis mencoba mengambil jalur historis dimana disebutkan bahwa asal usul Bangsa Batak adalah dari daerah Asia.

Suku Bangsa Batak semula adalah satu dari Suku Melayu Pegunungan (orang pendalaman yang tinggal dan terisolir di pegunungan) di pegunungan  perbatasan Burma / Siam (Thailand). Disana suku Bangsa Batak tinggal dengan suku – suku Bangsa Suku Melayu Pegunungan lainnya seperti Suku Bangsa Karen, Igorot, Toraja, Bontok, Ranau, Meo, Tayal, Waco.

Suku bangsa ini selama ribuan tahun terpisah dari pengaruh dunia luar (splendid isolation), mereka seluruhnya adalah orang – orang pegunungan yang cenderung mengurung diri di pegunungan dan menolak segala hubungan dengan dunia luar terutama orang – orang pesisir (Suku Melayu Pesisir).

Pada + 3000 SM Bangsa Mongol melakukan pelebaran wilayah kekuasaan mereka ke arah Selatan, sepanjang Sungai Irwandi, Salween, serta Mekong. Situasi ini mendesak orang – orang yang bukan hanya dari kalangan Suku Melayu Pesisir (orang pesisir) tetapi juga Suku Palae Mongoloid (nenek moyang orang orang Siam, Kamboja, Laos, Viet, dan Dayak. Akibat expansi ini, suku Siam mulai mendapat terpengaruh agama Budha. Berbeda dengan Suku Dayak yang terlanjur jauh berpindah ke pendalaman hutan Kalimantan.

Desakan yang dilakukan suku Mongol terhadap Palae Mongoloid memaksa Palae Mongoloid mendesak  pula ke atas naik ke pegunungan meninggalkan daerah pesisir, ke wilayah Suku Melayu Pegunungan. Inilah yang disebut dengan desakan secara Transcendental. Akibat desakan ini, kalangan Suku Melayu Pegunungan sebagian besar terdesak hingga ke tepi laut di Teluk Martaban dan berlahan – lahan terkena pengaruh budaya Hindu dimana dapat dipahami banyak istilah – istilah Hindu yang mereka adopsi masuk ke dalam bahasa – bahasa Suku Melayu Pegunungan antara lain ke dalam Bahasa Batak. Istilah – istilah seperti ; Debata, Singa, Surgo, Batara, Mangaraja dan lain – lain.

Masyarakat Suku Melayu Pegunungan yang aslinya adalah orang – orang pegunungan tentu tidak merasa nyaman berada di daerah pinggiran mengingat banyaknya ancaman dari pengaruh luar yang bisa datang mempengaruhi. Sangat jauh berbeda dari kebiasaan mereka yang suka menutup diri di pegunungan dari pengaruh luar.

Akhirnya kelompok ini terpecah. Suku Bangsa Bontok, Igorot dan suku Suku Melayu Pegunungan lain yang kecil sangat banyak pergi ke daerah Filiphina dan membentuk kelompok baru (seperti Bangsa Tagalog) dan hingga kini masih berada disana dan menolak masuknya agama luar.

Suku Bangsa Tayal pergi ke puncak puncak gunung – gunung di Taiwan (Formosa). Sejak 3.000 tahun hingga sekarang tidak terpengaruh oleh perebutan tanah di daerah pesisir dan tanah datar Taiwan oleh bangsa – bangsa dari Tiongkok, Belanda dan Jepang. Namun setelah Perang Dunia kedua, mereka dikristenkan oleh pendeta dari Kanada yang datang membawa modern medical science.

Suku Bangsa Toraja mendarat di Sulawesi. Dan disana mereka berbaur dengan suku – suku bangsa Bugis dan Makasar hingga sekarang. Agama islam sendiri sudah ada disini sejak 400 tahun sebelumnya namun suku bangsa Toraja dengan gigih menolak pengaruh islam. Pada abad ke-20 Agama Kristen masuk ke Toraja oleh Pendeta – pendeta yang datang dari Belanda membawa modern medical science.

Lain pula dengan Suku Bangsa Karen yang tetap bertahan di Pegunungan Burma. Hingga sekarang kabarnya masih sering bersengketa dengan suku bangsa lainnya yang sudah membentuk Republik Burma. Suku Bangsa Karen tetap menolak agama Budha yang menjadi agama mayoritas di Burma yang kemudian pada abad ke-19 di Kristenkan oleh Pendeta – Pendeta Inggris.

Suku bangsa Ranau mendarat di Sumatera Selatan dan mengurung diri dari pengaruh luar di sekitar Danau Ranau selama kurang lebih 2500 tahun. Lepas dari segala pengaruh Kerajaan Sriwijaya, Darmasraya dan kerajaan- kerajaan lain yang silih berganti muncul dan lenyap di Sumatera Selatan. Banyak dari suku Ranau dibunuh oleh Kesultanan Banten yang membutuhkan sekitar Danau Ranau untuk penanaman merica untuk di ekspor.

Suku Bangsa Meo juga sama seperti Suku Karen yang memilih bertahan di pegunungan. Mereka terdesak ke seberang lautan dan secara tak terduga menjadi terkenal disana oleh bisnis candu yang memang tumbuh subur di daerah itu. Candu ini kemudian dijual ke hampir seluruh penjuru dunia. Namun tetap terisolir dari pengaruh modernisasi.

Sementara untuk suku Wajo mereka memilih lautan. Mereka menetap disana dan menjadi Sea-Nomads. Orang – orang Wajo tersebar di lautan mulai dari Lingga Archipelago sampai ke Filiphina.

Suku Bangsa Batak mendarat di Pantai Barat Pulau Andalas. Disana suku Batak sudah segera terpecah menjadi beberapa bagian sebagai berikut :

Kelompok Pertama Melanjutkan pelayaran dan mendarat di Simalur, Nias, Batu, Mentawai, Siberut dan lain – lain hingga ke Enggano.

Kelompok Kedua mendarat di Muara Sungai Simpang (Singkil Sekarang) Masuk ke pendalaman dan menetap di Kutacane. Dari sana mereka menduduki seluruh pendalaman Aceh. Inilah yang kemudian menjadi Suku Batak Gayo dan Batak Alas. Walau berada di wilayah Aceh namun kelompok ini tidak pernah terpengaruh oleh Aceh. Tulisan dan Bahasa tetaplah Batak.

Kelompok Ketiga mendarat di Muara Sungai Sorkam (antara Barus dan Sibolga). Masuk ke pendalaman mencari daerah yang terisolir dan bermukim di kaki gunung Pusuk Buhit. Inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal orang Batak sekarang.

Suku Batak di Tanah Batak mendirikan permukiman yang pertama di tepi Danau Toba di kaki Gunung Pusuk Buhit yang bernama Sianjur Sagala Limbong Mulana. Tempat ini sangat terjamin dimana jika dilihat dari segi geografisnya sendiri, permukiman ini berada di ketinggian 900 meter berada jauh dari pinggir danau Toba dan memiliki sumber air untuk irigasi yang sangat banyak.

(Dikutip dari buku Tuanku Rao karangan Mangaraja Onggang Parlindungan)

Advertisements

4 comments on “Asal Usul Suku Batak

  1. horas jala gabe,,,,,,
    di atas tarsongon hata patu jolona di dok hamu “ada banyak versi yang berkembang di masyarakat tentang asal usul suku batak”
    jai di naung ipinatorang mu di toruna i, i ma sude versi na i? manang adong dope na asing ni i??
    mauliate parjolo……

  2. Tidak pernah ada dlm sejarah kami suku ranau dijajah kesultanan banten. justru Ranau menjalin hubungan baik dg banten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s